COD PALING ROMANTIS

COD BUKU PALING ROMANTIS

Sore ini aku akan COD buku dengan dua perempuan; satu Reseller, satu Pelanggannya Reseller. Dua COD pada jam yang sama (17.00) dan pada tempat yang sama (Alfamart Timoho. Dari pertigaan lampu merah UIN Sunan Kalijaga ke selatan 500 meter).

Aku SMS si mbak Pelanggan, "Aku sudah di Alfamart. Pakai kaos hitam."

Setelah nunggu sekitar lima menit, dua perempuan itu datang. Saya arahkan mereka untuk duduk di bangku. Mba Pelanggan membayar dua buku Pram.

"Aduh aku gak ada kembalian," aku melihat-lihat isi dompet.

"Aku juga gak ada uang kecil, Mas," katanya.

"Oya, punyamu diskon jadi 24.000," ucapku pada adik Reseller, "ada uang pas gak?"

"Gak ada juga ka," dia mengobrak-abrik dompetnya.

"Oya, Mba, uangnya sini aku pegang dulu. Dan ini kembaliannya ya... Kurang 10.000. Aku tukarkan dulu ke teman," aku masukkan uang ke saku, lalu jalan cepat menuju penjual mendoan "Bocah Cilacap".

"Cuma 23.000, Ka," adik Reseller menyerahkan selembar Rp. 20.000 dan enam logam Rp. 500.

"Oya Gpp. Seribunya besok lagi," sahutku. Kemudian dia pulang duluan.

"Ini ya, Mba," kataku pada Mba Pelanggan. "Oya, mbanya kuliah di mana?"

"UGM."

"S2 ya?"

"Iya."

"Jurusan apa?"

"Matematika.... Punya Pram apa lagi, Mas?"

"Ada beberapa. Panggil Aku Kartini Saja, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Cerita Calon Arang..."

"Terus apa lagi..?"

"Ada banyak sih karya Pram. Jejak Langkah, Rumah Kaca, Arok Dedes, Cerita dari Digul.. Itu yang ada. Yang kosong Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa..."

"Yang ada apa lagi Mas?"

"Perempuan dalam Cengkeraman Militer..."

"Itu udah punya aku. Kalau Gadis Pantai ada?"

"Gadis Pantai baru aja laku, belum lama, 2 Mingguan lalu."

"Yaaah...."

"Hm... terus ada Bukan Pasar Malam."

"Oya itu aku belum punya. Boleh lihat bukunya, Mas?"

"Iya boleh. Tapi gimana ini enaknya ya? Tempatku di pelosok, masuk ke dalam. Sampean nunggu di sini aja atau ikut aku ke markas?"

"Ya enaknya Mas aja gimana? Eh aku ikut aja ke tempatnya gak papa. Biar tahu sekalian."

Aku pandang sejenak wajah perempuan berjilbab biru dan bercelana jins biru itu, "Hm... Oke lah. Sampean ikut aku. Aku jalan kaki aja."

"Naik motor sekalian gak papa mas. Masnya di depan," dia menawarkan motor bebeknya untuk aku kendalikan.

Kami melaju menuju Kos Baqiet yang menjadi Markas Toko Buku Online Rindu Buku.

"Aku heran, dari kemarin lumayan banyak orang nyari-nyari tempatku. Padahal tempatku di pelosok Mba." Aku parkir motor di halaman depan.

"Iya, gak papa mas. Kita kan cari bukunya yang bagus. Bukunya yang jadi daya tarik. Bukan tempatnya." Kami berjalan menuju kos Baqiet yang berwarna hijau.

"Kemarin baru aja Mba... Alumnus Sanata Dharma ke sini juga, nyari buku langka."

Dia menunggu di teras depan. Sejurus kemudian aku berikan buku "Bukan Pasar Malam".

Wajahnya tampak sumringah dan cerah ceria. Parasnya yang cantik jadi makin cantik. Dia memeluk buku itu dan seraya menyerahkan rupiah tanda setuju membeli buku (lagi).

"Oya, Mas. Kalau 'Panggil Aku Kartini Saja' tadi katanya ada. Bisa lihat juga gak, Mas?"

"Bisa, Mba. Sebentar ya..."

"Ini..." Aku serahkan buku legendaris karya sastrawan Indonesia itu pada perempuan manis di depanku.

Dia pandangi buku dengan lekat dan saksama. Dilihatnya cover depan, cover belakang, dan sisi-sisi samping buku.

"Duh bagus Mas. ORI lagi. Kemarin beli tapi bukan ORI," dia menyerahkan buku ke tanganku.

"Iya, Mba. Dan ini aku yakin tinggal satu-satunya stok yang ada di Jogja. Kemarin aku punya dua, sudah laku satu. Tinggal satu ini aja," aku senyum padanya.

"Pengen aku, Mas. Tapi duitnya belum cukup ini," pikirannya seperti melihat-lihat isi dompetnya tadi, "semoga nanti masih ada, kalau gak keduluan diambil orang."

"Iya, Mba. Semoga aja."

"Iya gitu dulu ya Mas. Makasih ya?"

"Iya Mba sama-sama."

"Eh, Mas. Ini pulangnya lewat mana ya? Biar ke jalan utama tadi?"

"Ini dari depan situ tinggal maju terus aja sampai jalan raya."

"Hm..."

Oya ya. Perempuan ini nampaknya ngasih kode.

"Oya, aku antar ke depan Mba. Yok..." Kami melangkah ke parkiran motor.

"Aku ikut ke depan sekalian aja Mba. Sekalian aku balikin duit ke temanku yang jualan mendoan." Aku memegang kontak motor lagi, "Oya, ini bukuku (Panggil Aku Kartini Saja) titip pegang sampean dulu."  Sambungku.

Duh romantis sekali... Kami bolak-balik naik motor barengan. Ini juga momen yang sangat langka bagiku.

"Dah sini aja ya Mba," Aku standarkan si motor.

"Eh, Mas, langsung lanjut ATM aja. Buku Kartininya aku beli sekalian aja. Tapi aku tarik uang dulu."

Kami pun lanjut maju. Dia masuk ruang ATM BRI Timoho dan aku menunggunya di depan.

"Ini ya Mas." Dia menyerahkan beberapa lembar uang.

"5.000-nya gak usah gak papa. Mbaknya udah beli buku banyak, kok."

"Oh gitu... Terima kasih ya, Mas." Dia tersenyum dan kembali menata duit di dompetnya dan memasukkan buku dalam tasnya.

Sementara itu, aku menyiapkan motornya agar dia lebih mudah menjangkaunya.

Dengan santun aku berucap, "Terima kasih, ya Mba."

"Iya Mas. Aku yang harusnya makasih ini."

Cerita ini tidak aku rekayasa, kawan. Adik Reseller jadi saksi. Tukang parkir serabutan Alfamart Timoho juga jadi saksi. Pemuda penjual mendoan laris yang banyak fans-nya juga jadi saksi. Angin-angin jadi saksi. Malaikat menyaksikan juga kan?

Begini, ada point yang ingin aku ketengahkan pada sidang pembaca. Ternyata keramahan kita melayani pelanggan, kepekaan kita mengajak Pelanggan ngobrol akan menimbulkan kesenangan dalam dirinya. Dan ternyata berdampak juga dalam melipatgandakan rezeki kita. Contohnya, tadi si Mba Pelanggan cuma beli dua buku. Setelah aku ajak ngobrol, dia nambah beli dua buku lagi. Jadi total dia membeli empat buku. Oya, kalau kamu mau order buku, sekarang inbox FB RinduBuku saja. Akun FB Amin Sahri sudah tidak untuk jualan buku.

Aku berlaku seperti ini spontanitas ketulusan ya. Bukan modus. Ketulusan itu punya bahasanya tersendiri, dari hati dan akan sampai ke hati.

Aku sama sekali tidak bermaksud menghasut dia membeli banyak buku (kalau memang dia tidak butuh). Aku hanya penikmat buku dan ingin menjadi teman bicara/sharing seseorang yang juga penikmat buku.

"Hati-hati ya Mba," aku melambaikan tangan dan dia perlahan hilang di belokan.

"Semoga ada pertemuan kedua dan ketiga dan seterusnya," doaku dalam batin.
***

Jogja, 25 Januari 2018

Komentar