Kenapa Mereka Jualan Bukunya Produktif?

Kenapa Mereka Jualannya Bisa Produktif?

Tahun 2012 saya sudah jualan buku online, di Cilacap. Agustus 2013 saya hijrah ke Jogja, masih lanjut jualan online meski prospeknya belum menggairahkan. Tahun 2013 penjual buku online masih sedikit banget... Penjual buku online yang kirim ke Ekspedisi di Kopma kampus saya bisa dihitung dengan jari. Tapi sekarang sudah terlalu banyak.

Dana Gumilar, pemilik Berdikari Book, dulu sempat beli buku pada saya. Gak lama kemudian dia mulai jualan buku sendiri. Lama-lama semakin berkembang, semakin berinovasi dan semakin produktif. Penjualannya mencapai 3.600 eksemplar per bulan. Dia gak main Reseller. Timnya ada empat orang. Dia fokus menjual buku-buku kiri dan pergerakan. Buku-buku yang temanya bertentangan dengan karakternya tidak dia jual. Dan tentu saja, dia tidak melayani order buku-buku langka (hanya melayani order yang dia punya stok memadai). Dia pun gak sempat mencarikan "buku-buku susah" yang biasa dicari mahasiswa-mahasiswa yang lagi skripsi.

IG Berdikari Book per 16 Februari 2018 punya Followers 102.000. Faktor yang membuat peningkatan followers yang begitu cepat karena digarap secara tim dengan serius, fokus dan konsisten. Mereka membuat postingan foto buku yang menarik, mereka mendesain kutipan-kutipan buku dengan apik; inilah yang menjadi daya tarik dan membuat banyak orang like, komentar, repost dan mention teman-temannya. Sehingga akun mereka menjadi terkenal dan diikuti banyak orang. Selain itu, mereka tetap juga menggerakkan timnya untuk follow-follow akun sebanyak mungkin (agar semakin banyak yang follow balik).

Teman saya, Zainuddin Muza, mulanya melihat saya sering kirim paket buku. Lama-kelamaan dia pun tertarik jualan buku online. Semua sosial media dan marketplace dia pakai. Sempat jualan dengan bantuan Reseller, namun kemudian tidak dilanjutkan lagi. Jualan di sosmed pun sudah tidak fokus lagi. Yang fokus dan konsisten hanya di Marketplace. Bukalapak Sadeyan Buku yang dia kelola sudah mengahasilkan 3.000 feedback. Itu angka yang sangat fantastis dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Kenapa bisa Produktif? Karena Chanel penjualan online nya dikerjakan secara tim, fokus, serius dan konsisten.

Bukalapaknya kalau dikerjakan seorang diri tentu perkembangannya tidak sepesat itu. Dia membayar beberapa kawannya untuk upload buku setiap hari. Dia juga mempekerjakan beberapa kawan lain untuk fokus menggarap di bagiannya masing-masing. Dia pintar mencari orang dan mampu memberdayakan mereka.

Muza pernah bilang ke saya bahwa capek melayani tipe-tipe Pelanggan sosmed yang biasa cari buku-buku yang susah. Lebih enak fokus jual produk yang ada dan stok memadai.

Nah memang bila kita terjun dunia jual buku online, khususnya di media sosial, sekitar 50% pertanyaan Pelanggan adalah tanya buku-buku yang tidak ada di postingan dan tidak ada di katalog. Kalau kita turuti request-nya, waktu Produktif kita hilang banyak banget.
***

Jualan laris bin produktif kuncinya sederhana banget. Kalau di IG, rajin posting, bikin konten menarik, rajin cari followers. Soal konten menarik IG Kumpulan Puisi bisa jadi contoh. Ini pertama yang garap adalah teman saya. Dia fokus buat konten-konten yang kiranya menarik. Pada satu-dua bulan awal dia gak jualan. Hanya fokus mengumpulkan followers. Caranya dengan menciptakan 'magnet' dalam postingan-postingannya. Barulah ketika followersnya lumayan banyak, dia berani jualan. Dia jual buku, Tote Bag dan Kaos. Pernah dia pre order novel Milea karya Pidi Baiq, laku 500 eksemplar! Penjualan tertinggi se-Jogja (diantara para penjual online yang lain). Dia juga pernah Laku sekitar 200 Novel Intelegensi Embun Pagi edisi Tanda Tangan. Aku punya sekitar 40 pun dia borong. Per 16 Februari 2018 follower nya berada di angka 292.000.

Awal merintis dia kerja keras sekali. Sekarang Akun IG nya dia serahkan untuk dikelola admin, sekitar 10 orang. Dan semuanya dibayar.

Kemudian, kunci sederhana jualan laris di BukaLapak adalah postingannya banyak. Kalau kamu sudah punya postingan 10.000 judul buku atau lebih, saya yakin tiap hari kamu bakal ada order banyak. Hanya saja capek kan kalau seorang diri yang ngerjain. Coba ikuti langkahnya Zainuddin yang bayar beberapa orang buat upload tiap hari sebanyak mungkin. Aku pun bayar orang, per upload satu foto aku bayar admin Rp. 400 - 500 rupiah.

Buku-buku aneh, tidak familiar, kalau sudah ter-upload di BukaLapak peluang lakunya lebih besar daripada upload promo di Sosmed. Sebab aku sering banget mencari dan menemukan buku-buku yang nyelip, buku yang berdebu, tak terjamah sekian lama, eh kemudian laku di BukaLapak.

Penjual Buku di BukaLapak no. 1 di Indonesia adalah Bukubeta. Dia punya feedback 33.700. Kiriman per hari sekitar 40-50 paket. Dia fokus main di BukaLapak. Dia pun mempekerjakan beberapa orang untuk admin, untuk belanja, packing, dan kirim. Dia menjalin kerja sama dengan banyak toko buku dan penerbit. Fungsinya agar dia punya banyak katalog buku. Sehingga punya banyak bahan untuk di upload dan peluang Penjualannya lebih besar.

IG Berdikari Book dan Kumpulan Puisi jualannya laris karena fokus menjual buku-buku yang segmented (yang stoknya memadai). Eit, ada beda... Berdikari jualan dengan main diskon. Kumpulan Puisi tanpa diskon (bahkan harga di atas harga normal). Berdikari Book kukuh dengan idealismenya sedangkan Kumpulan Puisi segmentasinya pembaca sastra, tapi dia agak lentur. Kalau ada pelanggan pesan buku hits seperti bukunya Dilan, novel Tere Liye, bukunya Ustad Abdul Somad; dia layani selagi stoknya memadai. Berdikari punya senjata Aplikasi jualan di PlayStatore. Kumpulan Puisi punya senjata line@ yang followers nya sekitar 2 juta.

Sadeyan Buku dan Bukubeta jualannya laris karena fokus di marketplace dengan menjual berbagai macam jenis buku (tidak main segmentasi).

Persamaan dari semua teman-teman saya yang jualannya Produktif ini karena jualannya dikerjakan secara tim, fokus, serius dan konsisten.

Kalau sudah membaca tuntas artikel ini, Reseller saya harap bisa mengambil kesimpulan dan poin-poin penting yang mesti ditindaklanjuti.

Semoga jualannya jadi lebih produktif. Aamiin.
***

Jogja, 16 Februari 2018

Komentar